Langsung ke konten utama

Andai Hari Itu Tak Pernah Ada

Pagi itu saya dan saudara kembar saya pergi ke sekolah seperti biasanya, tanpa ada firasat apapun. Memang saat itu kami memutuskan untuk tidak berpamitan dengan bapak karena beliau sedang terlelap dalam tidurnya. Ya, bapak sedang sakit, ia baru satu bulan pulang ke rumah setelah sempat cukup lama dirawat di rumah sakit. Beliau menderita penyakit komplikasi (ginjal, jantung, liver dan diabetes).

Awalnya beliau hanya menderita satu penyakit, yaitu ginjal. Tapi lama kelamaan merembet ke beberapa penyakit seperti yang sudah saya beri tahu di atas. Bapak sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit (koma) dalam waktu yang cukup lama, saya kurang ingat berapa lama pastinya. Yang jelas sebelum dibolehkan pulang ke rumah, bapak sempat di rawat sekitar dua bulan. Akhirnya bapak boleh dibawa pulang dan berobat tradisional. Meskipun bapak masih harus bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah.

Kembali di hari itu, setelah sekolah saya dan saudara kembar saya pulang ke rumah dengan santainya seperti biasa. Saat tiba di rumah, kami menyempatkan diri menengok bapak di kamar dengan maksud ingin menyalaminya, karena sudah menjadi adab keluarga kami untuk menyalami semua orang yang ada di rumah ketika ingin pergi ataupun pulang.

Saat kami memasuki kamar bapak, langkah kami pun terhenti saat melihat mulut bapak terbuka dan matanya melotot seperti melihat ke atas dengan mengeluarkan suara seperti orang ngorok. Di kamar ada saudara sepupu saya dan pak Jajuli, sang pengobat tradisional yang dipercaya untuk mengobati bapak.

Melihat kejadian tersebut pak Jajuli menyuruh kami untuk membacakan surat yasin untuk bapak, sementara saudara sepupu saya mengabarkan semua keluarga termasuk menelpon ibu yang saat itu sedang bekerja dan menelpon ke sekolah kakak pertama saya yang saat itu sedang sekolah.

Awalnya saya dan saudara kembar saya nggak berpikir apa-apa, tapi setelah pak Jajuli meminta kami membacakan surat yasin untuk bapak, baru kami sadar kalau bapak sedang sakaratul maut. Tak pakai pikir panjang, saya, saudara kembar saya dan satu orang tetangga saya yang saat itu sudah ke rumah karena telah diberitahu oleh sepupu saya langsung membacakan surat yasin sambil tak hentinya meneteskan air mata.

Saat itu saya memang masih berusia 10 tahun, dan banyak yang bilang di usia segitu saya belum mengerti kalau orang tua kami pergi untuk selamanya. Tapi itu tidak terjadi pada saya dan saudara kembar saya, ya meskipun tetap ada pikiran anak kecil. Yang pasti saya dan kembaran saya merasa sangat ketakutan, kami takut bapak pergi untuk selamanya. Kalau bapak pergi siapa yang membelikan kami mainan, kalau bapak pergi siapa yang antar kami ke sekolah, kalau bapak pergi siapa yang akan menjaga kami dan ibu.

Tangisan kami pun makin kejer saat om saya yang tinggal di sebelah rumah datang dan membimbing bapak untuk mengucap dua kalimat syahadat. Saking kejernya tangisan kami, sampai kami sudah tidak fokus lagi membacakan surat yasin untuk bapak. Sampai pada akhirnya om saya selesai menuntun bapak membaca dua kalimat syahadat dan menutup mata bapak membuat tangisan saya, saudara kembar saya, dan salah seorang tetangga saya yang ikut membacakan yasin tadi memecah.

"Bapak.. bapak... bapakkk.." Teriak saya dan saudara kembar saya.

Kami menangis tak henti, karena apa yang kami takutkan terjadi. Takut tidak ada yang membelikan mainan, takut tidak ada yang antar ke sekolah, dan takut tidak ada lagi yang menjaga kami dan ibu. Bapak pergi untuk selamanya.

Tangisan kami tidak berhenti sampai ibu pulang dan ikut menangis karena harus menerima kenyataan kalau suami tercintanya sudah tiada lagi di dunia. Saudara-saudara kami yang sudah berkumpul di rumah mencoba menenangkan ibu dan meminta ibu untuk tidak menangis lagi. Cuma satu jawaban ibu. "Kalau anak-anak masih nangis, aku nggak bisa berhenti nangis." Jawab ibu kepada saudara-saudara kami.

Bagaimana tidak sedih jika menjadi ibu? Karena hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-42. Apa yang kalian rasakan jika di hari bahagia kalian justru harus mendapat kabar buruk? Hancur pastinya. Tapi saya yakin ibu tidak akan hancur, karena beliau adalah orang tersabar yang pernah saya kenal di dunia ini.

Sejak saat itu ibu menjadi single parent dan harus membesarkan tiga orang anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan SD. Sejak saat itu tertanam di pikiran saya kalau saya tidak boleh membuat ibu sedih dan harus selalu membuat ibu senang dan bangga, walaupun sampai saat itu saya belum bisa membuatnya bangga, tapi paling tidak saat ini saya sudah bisa memberikan apa yang ibu butuhkan meskipun hanya sedikit. Semoga ibu selalu bahagia memiliki anak seperti saya seperti saya yang selalu bahagia dan bersyukur memiliki ibu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Perubahan

Jungkir balik berpikir apa yang bisa menyelesaikan
Dari masalah kecil hingga yang besar
Hingga kadang berasap otak ini karenanya
Semua demi mencapai apa yang di tuju

Tak jarang konflik pun terjadi
Dari konflik internal hingga eksternal
Namun selalu selesai tanpa melebar ke luar
Semua demi mencapai apa yang di tuju

Kau selalu berkata ini demi bersama
Kau selalu bicara soal kebersamaan
Kau selalu berkoar kalau kita bersama
Kau pun selalu menganggap kita ini bersama

Hingga tiba saatnya semua terlihat berbeda
Berbeda dari yang direncanakan di depan
Dan kini semua bertanya-tanya
Masihkah yang di tuju itu sama?

Kebisingan terngiang di kepala ini
Kebisingan yang sangat mengganggu
Kebisingan yang terselip kata seolah ingin mengakhiri
Kebisingan itu pun merongrong seraya bertanya
Masihkah yang di tuju itu sama?



Biarin Deh Capek, yang Penting Sehat

29 tahun tinggal di Depok, baru sadar hari ini kalo jalanan kota belimbing ini banyak yang nanjak, padahal biasanya kalau motoran rasanya landai-landai aja.

Ya, hari ini adalah kali pertama gue sepedaan, biasanya kalau olahraga paling renang aja (itupun jarang banget), karena yang gue pikirin renang kan di air, jadi sejuklah, nggak bakal capek, walaupun pada akhirnya gue tarik ucapan gue itu karena setelah berenang bawaannya cuma pengen tidur aja. Aseli capek.

Nah, balik lagi ke sepeda. Kenapa gue mutusin buat sepedaan? Hmmm.. Jadi begini ceritanya. Sebenernya udah lama gue pengen sepedaan, dari mulai beberapa temen rumah gue pada main sepeda (kira-kira 4-5 tahun yang lalu lah), tapi saat itu cuma pengen doang tapi uangnya malah dipake buat beli yang lain. Haha, biasa ABG, masih labil.

Abis itu sempet udah lupa tuh, karena temen-temen gue yang sepedaan udah jarang nongkrong bareng. Eh terus hampir setahun yang lalu deh kayaknya, beberapa temen kantor gue pada sepedaan juga, nah sempe…