Langsung ke konten utama

Aslinya Riza, Nama Kecil Ija, dan Sekarang Lebih Dikenal dengan Babel

Riza Fanani Novianto, itu nama akte gue. Dua kata nama depan gue diambil dari nama seorang ustaz yang sampai sekarang gue nggak tau apa artinya, pemberian pakde (kakak dari Ibu) gue, yang jelas gue taunya kedua orang tua gue punya harapan dari nama tersebut, meskipun kenyataannya jauh dari yang mereka harapkan. Sedangkan nama belakang gue "Novianto" merupakan pemberian orang tua gue, simpel memang, karena gue lahir di bulan November.

Dari kecil gue dipanggil "Ija", potongan dari "Riza", pasti banyak dari kalian yang waktu kecil (bahkan sampe sekarang) nama panggilannya juga potongan bahkan plesetan dari nama aslinya. Ya kan? Gue dipanggil "Ija" sampe masuk SMA. Sejak SMA kelas satu pertengahan, temen-temen gue lebih terbiasa manggil gue "Babel", bahkan temen kecil gue yang juga satu SMA dengan gue pun ikutan manggil gue "Babel".

Kenapa "Babel"? Bukan karena badan gue yang gemuk atau tebel jadi disingkat Babel (badan tebel). Walaupun ceritanya nggak begitu menarik, tapi gue bakal kasih tau asal-muasal kenapa gue dipanggil "Babel". Ya, nama yang sampe sekarang lebih dikenal orang dari nama asli gue, "Riza".

Waktu gue masuk SMA ternyata ada temen SD gue yang satu kelas dengan gue. Upi namanya, itu adalah nama kecilnya. Kami memutuskan untuk duduk sebangku di kelas 1 SMA. Beberapa hari setelah masuk sekolah, di kelas kami ada satu orang yang duduk sendirian dan jarang gabung dengan anak sekelas kami lainnya (setelah beberapa lama gue baru tau kalo ternyata dia veteran alias nggak naik kelas). Namanya "Kelik", itu nama asli, walaupun awalnya gue juga ngira nama samaran doang. Awalnya hanya ngerasa iba sama dia karena di kelas selalu sendirian, akhirnya gue dan Upi memutuskan untuk kenalan dan ngajak ngobrol dan lama kelamaan kami jadi selalu bertigaan kemana-mana.

Kelik bisa dibilang adalah salah seorang pentolan (jagoan) saat dia kelas satu sebelum akhirnya dia nggak naik. Gue dan Upi tau itu karena saat kemana-mana bertiga, dia selalu ditegor sama kakak kelas kita, dan nggak jarang juga dia malakin kakak kelas. Awalnya nggak enak mau nanya, tapi lama-lama rasa penasaran gue dan Upi udah nggak terbendung lagi, dan akhirnya gue tanya ke dia.

"Lik, kok anak kelas 2 pada kenal sama lu si? Mana lu palakin mulu lagi," tanya gue ke Kelik.
"Lah, gue kan veteran, ya jelas banyak yang kenal lah sama gue." Jawab Kelik dengan nada bangga.
"Oh, lu peteran Lik? Pantesan anak kelas 2 banyak bener yang kenal lu." Sahut Upi dengan logat betawinya.
"Makanya lu pada kalo balik sekolah jangan langsung balik, nongkrong dulu, jalan dulu (tawuran maksudnya). Biar pada kenal sama kakak kelas." Ujar Kelik.

Dari situ gue dan Upi akhirnya tahu kenapa banyak anak kelas dua yang kenal dan sering dipalak sama Kelik. Setelah itu akhirnya gue dan Upi tiap pulang sekolah selalu nongkrong dulu bareng si Kelik di warung depan gang sekolah.

Nah, masalah kenapa nama gue berubah jadi "Babel" itu adalah idenya si Kelik. Jadi suatu saat di kelas, gue, Upi dan Kelik lagi bercanda soal film kartun. Tiba-tiba Kelik nyeletuk.

"Eh, gimana kalo kita bertiga bikin geng Powerpuff Girl? Jadi gue Blossom, lu Bubbles (nunjuk ke gue), Upi Buttercup." Celetuk Kelik.
"Boleh juga tuh, tapi kan Powerpuff Girl cewek semua Lik." Sahut Upi.
"Yaelah, mau cewek kek cowok kek, yang pentingkan jagoan." Jawan Kelik

Bodohnya gue dan Upi setelah itu meng-iyakan ide si kelik, yang lama-lama kita semua sadar kalo itu bodoh dan nggak jelas. Dari situ akhirnya coretan nama baru kita bertiga selalu ada di buku, meja, dan tembok kelas. Tapi sialnya, mereka berdua selalu manggil gue Bubbles yang akhirnya karena kepeleset jadi Babel, sedangkan mereka tetep dipanggil Upi dan Kelik. Akhirnya semua orang di sekolah (yang kenal) taunya nama gue "Babel" bahkan saat itu nggak ada yang tau nama asli gue (selain temen sekelas gue), dan itu berkelanjutan sampe gue masuk kuliah karena di kampus gue juga ada temen SMA gue, bahkan saat gue kerja, dan sampe sekarang gue udah beberapa kali pindah kantor selalu dikenal dengan "Babel".

Tapi sayang, sekarang kami bertiga udah jarang, bahkan nggak pernah ketemu lagi. Kadang kalo lagi inget masa-masa itu suka geli sendiri, dan kangen bisa kaya dulu lagi, nongkrong, main, jalan, bercanda bareng bertiga. Mungkin nanti kalo udah waktunya kami akan bertemu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

May Day 2014

Di bawah kuasa tirani, kususuri garis jalan ini berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti...









Perkampungan Nelayan Muara Angke.

Perkampungan Nelayan Muara Angke
Hari demi hari selalu kami habiskan bersama kapal, jala, dan laut. Di sini, di kampung nelayan, tempat di mana kami para nelayan berjuang demi kelangsungan hidup.

Sampah, bangkai, genangan air, bau amis dan hewan tak bertuan sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi kami tetap bahagia dengan itu semua, karena di sini kami selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh tuhan yang maha Esa.


Sibuk Kembali