Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Andai Hari Itu Tak Pernah Ada

Pagi itu saya dan saudara kembar saya pergi ke sekolah seperti biasanya, tanpa ada firasat apapun. Memang saat itu kami memutuskan untuk tidak berpamitan dengan bapak karena beliau sedang terlelap dalam tidurnya. Ya, bapak sedang sakit, ia baru satu bulan pulang ke rumah setelah sempat cukup lama dirawat di rumah sakit. Beliau menderita penyakit komplikasi (ginjal, jantung, liver dan diabetes).

Awalnya beliau hanya menderita satu penyakit, yaitu ginjal. Tapi lama kelamaan merembet ke beberapa penyakit seperti yang sudah saya beri tahu di atas. Bapak sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit (koma) dalam waktu yang cukup lama, saya kurang ingat berapa lama pastinya. Yang jelas sebelum dibolehkan pulang ke rumah, bapak sempat di rawat sekitar dua bulan. Akhirnya bapak boleh dibawa pulang dan berobat tradisional. Meskipun bapak masih harus bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah.

Kembali di hari itu, setelah sekolah saya dan saudara kembar saya pulang ke rumah dengan santainya seperti b…

Selalu Ada yang Tak Perlu karena Sudah Semestinya Begitu

Selalu ada yang tumbuh dan layu
Selalu ada yang timbul dan tenggelam
Selalu ada yang terbit dan terbenam
Selalu ada yang muncul dan menghilang
Selalu ada yang lahir dan mati
Selalu ada yang datang dan pergi

Selalu ada perpisahan jika dimulai dari perkenalan...

Tak perlu ada yang ditakutkan
Tak perlu ada yang dirisaukan
Tak perlu ada yang digundahkan
Tak perlu ada yang disesalkan
Tak perlu ada yang dipojokkan
Tak perlu ada yang dibuat tidak nyaman

Karena sudah semestinya begitu.
Yang pergi biarlah pergi.
Selanjutnya, jalani seperti sebelum mereka yang pergi datang.
Karena sudah semestinya begitu.

Hidup akan terus berlanjut, karena.. sudah semestinya begitu!

Ku Kenang Kau dengan Sajak

Pernah kita melewati hari-hari penuh ceria bersama Menikmati pahit manis kisah sejak kita masih pipis di celana Semua kita lalui dengan penuh bahagia Meski usia kita tidaklah sama Tak peduli yang penting kita seirama
Dari bermain bola di sore hari Hingga bermain gaple di malam hari Semua masih ku ingat setiap hari Sangat jelas di kepalaku meski tak kutulis bak diari
Hebatnya kisah yang kita jalani tak satupun buruk Kau selalu ada saatku terpuruk Walaupun aku tak jarang melakukan hal-hal busuk Senyumanmu lah yang membuat ku terketuk
Aku yakin, bukan cuma aku yang punya kenangan manis bersamamu Terlebih keluarga dan istrimu Aku selalu merasa beruntung pernah menjadi sahabatmu Tak ada seorangpun temanku yang selalu kucari sepertimu
Tahukah kau bagaimana getaran dalam hatiku setahun yang lalu? Ya, saat kakakmu memberi kabar tentang kepergianmu Awalnya tak ada rasa percaya sedikitpun dipikiranku Namun, saat ku melihat sendiri tubuhmu yang terbujur kaku Baru aku percaya kalau kakakmu tidak …

Aslinya Riza, Nama Kecil Ija, dan Sekarang Lebih Dikenal dengan Babel

Riza Fanani Novianto, itu nama akte gue. Dua kata nama depan gue diambil dari nama seorang ustaz yang sampai sekarang gue nggak tau apa artinya, pemberian pakde (kakak dari Ibu) gue, yang jelas gue taunya kedua orang tua gue punya harapan dari nama tersebut, meskipun kenyataannya jauh dari yang mereka harapkan. Sedangkan nama belakang gue "Novianto" merupakan pemberian orang tua gue, simpel memang, karena gue lahir di bulan November.

Dari kecil gue dipanggil "Ija", potongan dari "Riza", pasti banyak dari kalian yang waktu kecil (bahkan sampe sekarang) nama panggilannya juga potongan bahkan plesetan dari nama aslinya. Ya kan? Gue dipanggil "Ija" sampe masuk SMA. Sejak SMA kelas satu pertengahan, temen-temen gue lebih terbiasa manggil gue "Babel", bahkan temen kecil gue yang juga satu SMA dengan gue pun ikutan manggil gue "Babel".

Kenapa "Babel"? Bukan karena badan gue yang gemuk atau tebel jadi disingkat Babel (badan…