Langsung ke konten utama

Waktumu sudah habis!

Waktumu sudah habis!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Temanku Seorang Pecandu

Apa kalian punya teman yang merupakan seorang pecandu? Bagaimana sikap kalian ke orang itu? Jaga jarak? Tetep asik? Atau justru nggak mau kenal sama sekali?

Pada dasarnya kalian baru bisa mengambil sikap setelah kalian tau teman kalian itu adalah pecandu apa. Ya kan? Tapi kalo teman kalian kecanduan obat yang sama dengan si Jen ini, jangan coba-coba dekat dengan dia deh. Sumpah!

Jen. Dia adalah seorang perantau dari Wonogiri yang kemakan oleh hasutan kaum pemercaya "penak kerjo ning Jakarta, cepet sugih". Awal kenal sama dia gue selalu pengen ngakak kalo denger dia ngomong. Soalnya logat jawanya dia itu medok banget, tapi nggak tau biar dibilang gaul apa gimana dia ngomong dengan gaya anak gaul Jakarta.

"Hallo bero (bro), boleh kenalan bero (bro). Nama gua Jenarno, tapi elu panggil gua Jen aja bero (bro)." Kalimat pertama Jen saat ngajak gue kenalan.

"Oh iya, salam kenal. Gue Roby. Udah lama kerja di sini?" Gue tanggepin aja sambil basa basi.

"Wah, k…

Andai Hari Itu Tak Pernah Ada

Pagi itu saya dan saudara kembar saya pergi ke sekolah seperti biasanya, tanpa ada firasat apapun. Memang saat itu kami memutuskan untuk tidak berpamitan dengan bapak karena beliau sedang terlelap dalam tidurnya. Ya, bapak sedang sakit, ia baru satu bulan pulang ke rumah setelah sempat cukup lama dirawat di rumah sakit. Beliau menderita penyakit komplikasi (ginjal, jantung, liver dan diabetes).

Awalnya beliau hanya menderita satu penyakit, yaitu ginjal. Tapi lama kelamaan merembet ke beberapa penyakit seperti yang sudah saya beri tahu di atas. Bapak sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit (koma) dalam waktu yang cukup lama, saya kurang ingat berapa lama pastinya. Yang jelas sebelum dibolehkan pulang ke rumah, bapak sempat di rawat sekitar dua bulan. Akhirnya bapak boleh dibawa pulang dan berobat tradisional. Meskipun bapak masih harus bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah.

Kembali di hari itu, setelah sekolah saya dan saudara kembar saya pulang ke rumah dengan santainya seperti b…

Selalu Ada yang Tak Perlu karena Sudah Semestinya Begitu

Selalu ada yang tumbuh dan layu
Selalu ada yang timbul dan tenggelam
Selalu ada yang terbit dan terbenam
Selalu ada yang muncul dan menghilang
Selalu ada yang lahir dan mati
Selalu ada yang datang dan pergi

Selalu ada perpisahan jika dimulai dari perkenalan...

Tak perlu ada yang ditakutkan
Tak perlu ada yang dirisaukan
Tak perlu ada yang digundahkan
Tak perlu ada yang disesalkan
Tak perlu ada yang dipojokkan
Tak perlu ada yang dibuat tidak nyaman

Karena sudah semestinya begitu.
Yang pergi biarlah pergi.
Selanjutnya, jalani seperti sebelum mereka yang pergi datang.
Karena sudah semestinya begitu.

Hidup akan terus berlanjut, karena.. sudah semestinya begitu!