Langsung ke konten utama

Perkampungan Nelayan Muara Angke.

Perkampungan Nelayan Muara Angke

Hari demi hari selalu kami habiskan bersama kapal, jala, dan laut. Di sini, di kampung nelayan, tempat di mana kami para nelayan berjuang demi kelangsungan hidup.

Sampah, bangkai, genangan air, bau amis dan hewan tak bertuan sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi kami tetap bahagia dengan itu semua, karena di sini kami selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh tuhan yang maha Esa.

Seperti inilah wajah perkampungan nelayan Muara Angke. Air, puing, sampah, bangkai, hewan, dan kapal selalu menghiasinya.

Atap rumah mereka dipenuhi oleh bendera parpol sisa pemilu kemarin.

Warga berkumpul bersama keluarga untuk mengisi hari-harinya.
Bangkai kapal yang pernah menghidupi keluarga disini kini tertumpuk bersama sampah-sampah lainnya.
Di dermaga inilah mereka melabuhkan kapalnya setelah berlayar dilautan.
Barisan kapal ini merupakan amunisi utama para nelayan di kampung ini.

Seorang nelayan yang baru pulang dari lautan sedang berusaha memarkir kapalnya.
Anak-anak tetap bermain sepak bola meski tak ada lahan yang tersedia untuk berolah raga.
Mereka selalu bermain dengan ceria meskipun perkampungan mereka termasuk dalam kategori kumuh.
Ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan dikeringkan sebelum dijual di pasar ikan.
Selain mentah, mereka juga membakar beberapa ikan hasil tangkapan untuk dijual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Temanku Seorang Pecandu

Apa kalian punya teman yang merupakan seorang pecandu? Bagaimana sikap kalian ke orang itu? Jaga jarak? Tetep asik? Atau justru nggak mau kenal sama sekali?

Pada dasarnya kalian baru bisa mengambil sikap setelah kalian tau teman kalian itu adalah pecandu apa. Ya kan? Tapi kalo teman kalian kecanduan obat yang sama dengan si Jen ini, jangan coba-coba dekat dengan dia deh. Sumpah!

Jen. Dia adalah seorang perantau dari Wonogiri yang kemakan oleh hasutan kaum pemercaya "penak kerjo ning Jakarta, cepet sugih". Awal kenal sama dia gue selalu pengen ngakak kalo denger dia ngomong. Soalnya logat jawanya dia itu medok banget, tapi nggak tau biar dibilang gaul apa gimana dia ngomong dengan gaya anak gaul Jakarta.

"Hallo bero (bro), boleh kenalan bero (bro). Nama gua Jenarno, tapi elu panggil gua Jen aja bero (bro)." Kalimat pertama Jen saat ngajak gue kenalan.

"Oh iya, salam kenal. Gue Roby. Udah lama kerja di sini?" Gue tanggepin aja sambil basa basi.

"Wah, k…

Tentang Perubahan

Jungkir balik berpikir apa yang bisa menyelesaikan
Dari masalah kecil hingga yang besar
Hingga kadang berasap otak ini karenanya
Semua demi mencapai apa yang di tuju

Tak jarang konflik pun terjadi
Dari konflik internal hingga eksternal
Namun selalu selesai tanpa melebar ke luar
Semua demi mencapai apa yang di tuju

Kau selalu berkata ini demi bersama
Kau selalu bicara soal kebersamaan
Kau selalu berkoar kalau kita bersama
Kau pun selalu menganggap kita ini bersama

Hingga tiba saatnya semua terlihat berbeda
Berbeda dari yang direncanakan di depan
Dan kini semua bertanya-tanya
Masihkah yang di tuju itu sama?

Kebisingan terngiang di kepala ini
Kebisingan yang sangat mengganggu
Kebisingan yang terselip kata seolah ingin mengakhiri
Kebisingan itu pun merongrong seraya bertanya
Masihkah yang di tuju itu sama?



Andai Hari Itu Tak Pernah Ada

Pagi itu saya dan saudara kembar saya pergi ke sekolah seperti biasanya, tanpa ada firasat apapun. Memang saat itu kami memutuskan untuk tidak berpamitan dengan bapak karena beliau sedang terlelap dalam tidurnya. Ya, bapak sedang sakit, ia baru satu bulan pulang ke rumah setelah sempat cukup lama dirawat di rumah sakit. Beliau menderita penyakit komplikasi (ginjal, jantung, liver dan diabetes).

Awalnya beliau hanya menderita satu penyakit, yaitu ginjal. Tapi lama kelamaan merembet ke beberapa penyakit seperti yang sudah saya beri tahu di atas. Bapak sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit (koma) dalam waktu yang cukup lama, saya kurang ingat berapa lama pastinya. Yang jelas sebelum dibolehkan pulang ke rumah, bapak sempat di rawat sekitar dua bulan. Akhirnya bapak boleh dibawa pulang dan berobat tradisional. Meskipun bapak masih harus bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah.

Kembali di hari itu, setelah sekolah saya dan saudara kembar saya pulang ke rumah dengan santainya seperti b…